Seorang bocah bermain serunai mungil dari ilalang,
Bersila meresapi gemulainya bulan senja,
Yang ia percaya bahwa tidak seluruhnya kata memuati rasa,
Bahkan perwujudan rasa tanpa kata lebih istimewa,
Ah, dan ia ingat telah berjanji pada Tuhan untuk hanya sekadar mencoba,
Mencicipi mulianya sebagian rasa yang diagungkan manusia,
Ia yakin Tuhan tidak pernah ingkar akan janji makhluk-Nya,
Saat janji itu terambil, ia merasa ada dua hampa,
Ah, dan ia teringat janji lain pada Tuhannya,
Untuk memelihara kemuliaannya atas balas kemurniannya,
Atau cabut jiwanya beserta rasa yang dikandungnya,
Tapi bocah itu telah meluahi seperempat dasawarsa,
Tuhan tidak mengambil rasanya, hanya tempat rasa itu bernaung,
Baginya hidup ini ampas indah
Bocah itu merangkak dari tumpukan sampah menuju fajar di pelupuk mimpi,
Ia terajari cara menikmati perjalanan sekaligus pemandangan,
Ia terajari cara membuka pendengaran lalu penglihatan,
Ia terajari cara berbicara lewat ketulusan serta keikhlasan,
Dan ia sangat ingin terus bersamanya,
Ia menyisihkan serunai mungilnya,
Melipat rapi lembar memoarnya,
Dan menyimpan rapat dalam sebuah peti kayu Borneo yang cantik.
Ya, begitu ceritanya padaku, aku sangat mengenal bocah itu,
Bocah yang selalu mencari arti kebenaran diantara diorama kehidupan,
Dec, 19th 2009 22.28
Afterlife – AvengedSevenfold
at Long Beach Concert
van,, bahasanya asik..
jd terbawa suasana ..
mengilhami kata ‘janji’
By: yeris on October 9, 2010
at 7:54 pm